Sunday, 4 January 2015

ULUMUL QUR'AN 1

ULUMUL AL-QURAN





I.            ULUMUL QUR’AN DAN SEJARAH     PERKEMBANGANNYA
Al-Qur’an adalah mukjizat islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Allah subhanahu wa Ta’ala menurunkannya kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, demi membebaskan manusia dari berbagai kegelapan hidup menuju cahaya Illahi, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus.
‘Ulum adalah bentuk plural dari ‘ilm. ‘Ilm sendiri maknanya al-fahmu wa al-idrak (pemahaman dan pengetahuan). Kemudian, pengertiannya dikembangkan kepada kajian berbagai masalah yang beragam dengan standar ilmiah.
Dan yang dimaksud dengan ‘Ulum Al-Qur’an yaitu:suatu ilmu yang mencangkup berbagai kajian yang berkaitan dengan kajian-kajian Al-Qur’an seperti; pembahasan tentang asbab an-nuzul, pengumpulan Al-Qur’an dan penyusunannya , masalah Makkiyah dan Madaniyah, Nasikh dan Mansukh, muhkam dan mutasyabihat.Terkadang ulumul Qur’an juga disebut sebagai ushul at-tafsir (dasar-dasar/prinsip-prinsip penafsiran) karena memuat berbagai pembahasan dasar atau pokok yang wajib dikuasai dalam menafsirkan Al-Qur’an.
II.            AL-QUR’AN

Di antara kemurahan Allah terhadap manusia, adalah bahwa Dia tidak saja menganugrahkan fitrah yang suci yang dapat membimbingnya kepada kebaikan, bahkan juga dari masa ke masa mengutus seorang rasul yang membawa kitab sebagai pedoman hidup dari Allah, mengajak manusia agar beribadah hanya kepada-Nya semata. Menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah datangnya para rasul.
Al-Qur’an adalah: risalah Allah untuk seluruh umat manusia. Banyak dalil-dalil yang secara muttawatir yang diriwayatkan berkaitan dengan masalah ini, baik dari Al-Qur’an maupun dari Sunnah, diantaranya,
“katakanlah(hai Muhammad); hai sekalian manusia! Sesungguhnya aku adalah pesuruh Allah kepada kamu semua, (diutus oleh Allah) yang menguasai langit dan bumi, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang menghidupkan dan mematikan.oleh sebab itu, berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya(kitab-kitab-Nya); ikutilah Dia supaya kamu mendapat hidayah (Al-A’raff:158)
a)      Definisi Al-Qur’an
    "Qara’a” memiliki arti mengumpulkan dan menghimpun. Qira’ah berarti merangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ungkapan kata yang teratur. Al-Qur’an asalnya sama dengan qira’ah, yaitu akar kata (masdar-infinitif) dari qara’a, qira’atan wa qur’anan.
Qur’anah di sini berarti qira’ah (bacaan atau cara membacanya). Jadi kata itu adalah akar kata (masdar) menurut wazan (tashrif) dari kata (fu’lan) seperti “ghufran” dan “syukron”.
b)      Perbedaan antara Al-Qur’an , hadist qudsi, dan hadist nabawi
Hadist secara bahasa bermakna “dhiddu al-qadim”(lawan dari lama atau baru). Yang dimaksud hadist secara umum adalah setiap kata-kata yang diucapkan dan di nukil serta disampaikan oleh manusia, baik kata-kata itu diperoleh melalui pendengaran atau wahyu ketika dalam keadaan terjaga ataupun tidur. Dalam pengertian ini, Al-Qur’an juga bisa disebut hadist. Adapun secara istilah, hadist adalah apa saja yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir(persetujuan Nabi terhadap suatu perbuatan atau ucapan yang datang dari sahabatnya)
c)      Hadist Qudsi
Kata Qudsi dinisbahkan kepada kata quds (kesucian). Nisbah ini menunjukkan rasa ta’zhim (hormat akan kebesaran dan kesuciannya), kata itu sendiri menunjukkan kebersihan dan kesucian secara bahasa. Maka kata taqdis berarti mensucikan Allah. Taqdis sama dengan tathir; dan taqaddasa sama dengan tathahhara (suci, bersih) seperti: kata kata malaikat kepada allah dalam suatu dialog yang dilukiskan Al-Qur’an.
Hadist Qudsi secara istilah ialah suatu hadist yang oleh Nabi Shallalllahu Alaihi wa Sallam, di sandarkan kepada Allah. Maksudnya; nabi meriwayatkannya dalam posisi bahwa yang disampaikannya adalah kalam Allah. Jadi nabi itu adalah orang yang meriwayatkan kalam Allah, tetapi redaksi lafazhnya dari Nabi sendiri. Jika seseorang meriwayatkan satu hadist qudsi, dia berarti meriwayatkannya dari Rasulullah yang dinisbatkan kepada Allah. Apabila ada orang yang meriwayatkan hadist ini dari Rasulullah berarti dia menyandarkannya kepada Allah.
d)     Perbedaan Al-Qur’an dengan hadist Qudsi
·         Al-Qur’an Al-Karim adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah dengan lafazhnya , yang dengannya orang arab ditantang, tetapi mereka tidak mampu membuat yang seperti Al-Qur’an itu, atau sepuluh surat yang serupa itu, atau bahkan satu surat sekalipun, tantangan itu tetap berlaku, karena Al-Qur’an merupakan mukjizat abadi hingga akhir kiamat. Sedang hadist Qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula berfungsi sebagai mukjizat.
·         Al-Qur’an Al-Karim hanya dinisbatkan kepada Allah semata, istilah yang dipakai biasanya, “Allah Ta’ala telah berfirman.” Adapun hadist Qudsi terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah.
·         Seluruh isi Al-Qur’an dinukil secara muttawatir sehingga kepastiannya sudah mutlak. kepastiannya masih merupakan dugaan.
·         Al-Qur’an Al-Karim dari Allah baik lafazh maupun maknanya. Itulah wahyu. Adapun hadist Qudsi maknanya saja yang dari Allah, sedang lafazh (redaksi)nya dari Rasulullah shallallahu Alaihi wa Sallam. Hadist Qudsi wahyu dalam makna bukan dalam lafazh.
·         Membaca Al-Qur’an Al-Karim merupakan ibadah; karena itu ia dibaca didalam shalat.
III.            WAHYU
Dikatakan ; wahaitu ilaihi dan auhaitu. Kalimat ini digunakan jika tidak ingin orang lain mendengarnya. Wahyu mengandung makna isyarat yang cepat. Itu terjadi biasanya melalui pembicaraan yang berupa simbol, terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
Al-Wahy(wahyu) adalah kata mashdar (infinitif). Dia menunjuk pada dua pengertian dasar, yaitu; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu khusus ditunjukkan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian dasarnya (mashdar). Tetapi terkadang juga bermaksud al-muha, yaitu:pengertian isim maf’ul maknanya yang diwahyukan. Secara etimologi pengertian wahyu meliputi :
1.  Ilham al-fithri li al-insan (ilham yang menjadi fitrah manusia)
2.  Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah  
3.  Isyarat yang cepat melalui isyarat, seperti isyarat Zakaria yang diceritakan Al-Qur’an 
4.  Bisikan setan untuk menghias yang buruk agar tampak indah dalam diri manusia.
5.  Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikat-Nya berupa    suatu perintah untuk dikerjakan.
     A)    Cara Wahyu Allah Turun Kepada Malaikat
1.      Dalam Al-Qur’an Al-Karim terdapat nash mengenai kalam Allah kepada MalaikatNya
“ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada malaikat; sesungguhnya aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang beriman.” (Al-Anfal:12) 
2.    Jelas bahwa Al-Qur’an telah dituliskan di lauhul mahfuzh berdasarkan firman Allah, “bahkan ia adalah Al-Qur’an yang mulia yang tersimpan di lauhul mahfuzh.” (Al-Buruj: 21-22)
Para ulama berpendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah yang berupa Al-Qur’an kepada jibril dengan beberapa pendapat:
·       Jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah dengan lafazhnya yang khusus.
·       Jibril menghafalnya dari lauh Al-Mahfuzh.
·   Maknanya disampaikan kepada jibril, sedang lafazhnya dari jibril, atau Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

 B)    Cara Penurunan Wahyu Kepada Para Rasul 
    Allah menurunkan wahyu kepada para Rasul-Nya dengan dua cara; ada yang melalui perantaraan dan ada yang tidak melalui perantaraan.
            Yang pertama; melalui jibril, malaikat pembawa wahyu.   Yang kedua; tanpa melalui perantaraan. Di antaranya ialah, mimpi yang benar dalam tidur. 
          Penyampaian Wahyu Oleh Malaikat Kepada Rasul. Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul:
Pertama; datang dengan suatu suara seperti suara lonceng, yaitu suara yang amat kuat yang dapat mempengaruhi kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini adalah yang paling berat bagi Rasul. Apabila wahyu yang turun kepada Rasulullah dengan cara ini, biasanya beliau mengumpulkan segala kekuatan dan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Terkadang suara itu seperti kepakan sayap-sayap malaikat seperti di isyaratkan di dalam hadist,
“apabila Allah menghendaki suatu urusan dilangit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemerincingnya mata rantai diatas batu-batu yang licin.” (HR. Al-Bukhari)
Kedua; malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki. Cara seperti ini lebih ringan daripada cara sebelumnya, karena adanya kesesuaian antara pembicara dengan pendengar. Beliau mendengarkan apa yang disampaikan pembawa wahyu itu dengan senang, dan merasa tenang seperti seseorang yang sedang berhadapan dengan saudaranya sendiri.
C)    Syubhat Para Penentang Wahyu
ü  Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan wahyu, tetapi dari pribadi Muhammad. Dialah yang menciptakan maknanya, dan menyusun “bentuk gaya dan bahasanya.”
ü   Orang-orang jahiliyah, dahulu dan sekarang, menyangka bahwa Rasulullah mempuyai ketajaman akal, penglihatan yang dalam, firasat yang kuat, kecerdikan yang hebat, kejernihan jiwa dan renungan yang benar, yang menjadikannya mampu menimbang ukuran-ukuran yang baik dan buruk, benar dan salah melalui ilham, mengenali perkara-perkara yang rumit sehingga Al-Qur’an itu tidak lain daripada hasil penalaran intelektual dan pemahaman yang diungkapkan oleh Muhammad.
ü  Orang-orang jahiliyah klasik dan modern berasumsi bahwa Muhammad telah menerima ilmu-ilmu Al-Qur’an dari seorang guru. Itu tidak salah akan tetapi guru yang menyampaikan Al-Qur’an itu ialah malaikat pembawa wahyu, bukan guru yang berasal dari kaumnya sendiri.

No comments:

Post a Comment